Pelajaran yang Tak Pernah Kau Sadari
Aku tak pernah berharap kau menoleh kepadaku. Aku hanya ingin kau menoleh pada dirimu sendiri dan menyadari bahwa dinginmu bukanlah tanda kekuatan. Aku melihatmu tumbuh dengan rahang yang mengeras setiap hari, dengan kata-kata seperlunya, dengan sikap seolah tak ada yang perlu dijaga selain dirimu sendiri. Aku mengajarimu banyak hal yang tak pernah kau catat: bagaimana menahan amarah, bagaimana berdiri saat gagal, bagaimana melangkah tanpa harus merendahkan yang lain. Namun satu hal tak pernah berhasil kusampaikan— bahwa menjadi lelaki tak harus mematikan rasa. Aku berharap setiap kali aku menegurmu dengan sabar, ada sesuatu yang bergerak di dalam dadamu. Bukan untukku— melainkan agar kau kelak tak menjadi lelaki yang melukai orang baik hanya karena tak pernah belajar peka. Kau tetap sama. Datang, menjalani, pergi. Aku tetap di tempat yang sama, menyambutmu dengan wajah utuh sementara hatiku retak sedikit demi sedikit. Harapanku tak runtuh sekaligus. Ia aus. Hari demi hari, oleh ...