Ia yang Tak Pernah Menoleh

Ia tahu,

kau bukan murid yang pandai membaca isyarat.
Tatapanmu selalu lurus ke depan,
seolah dunia tak pernah menyimpan gema perasaan.

Ia memanggil namamu dengan nada biasa,
padahal di dadanya
ada ribuan kata yang ia lipat rapat
agar tak pernah jatuh ke tanah yang salah.

Kau tak pernah sadar
mengapa ia lebih lama berdiri di dekatmu,
mengapa suaranya sedikit berubah
saat memastikan kau baik-baik saja.

Bagimu, ia hanya pembina—
pemberi tugas,
penjaga aturan,
suara yang kadang terasa dingin seperti pagi.

Padahal ia menahan getir
setiap kali kau berlalu tanpa menoleh,
setiap kali keberhasilanmu
kau rayakan tanpa tahu
siapa yang paling dulu percaya padamu.

Ia tak marah pada ketidakpekaanmu.
Ia paham—
lelaki sepertimu diajarkan kuat,
bukan peka;
berdiri, bukan merasa.

Maka ia memilih diam.
Mencintai tanpa memiliki,
menjaga tanpa berharap dikenali,
bangga tanpa perlu disebut.

Jika suatu hari hatimu belajar hangat,
ia tak berharap kau kembali mencarinya.
Cukup tahu:
pernah ada seseorang
yang mencintaimu dengan cara paling sunyi—
dengan menyingkirkan perasaannya sendiri
demi masa depanmu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Retak yang Kupelihara Diam - Diam

Harap yang Tak Pernah Terucap