Pelajaran yang Tak Pernah Kau Sadari

 

Aku tak pernah berharap

kau menoleh kepadaku.

Aku hanya ingin

kau menoleh pada dirimu sendiri

dan menyadari

bahwa dinginmu

bukanlah tanda kekuatan.

Aku melihatmu tumbuh

dengan rahang yang mengeras setiap hari,

dengan kata-kata seperlunya,

dengan sikap seolah

tak ada yang perlu dijaga

selain dirimu sendiri.

Aku mengajarimu banyak hal

yang tak pernah kau catat:

bagaimana menahan amarah,

bagaimana berdiri saat gagal,

bagaimana melangkah

tanpa harus merendahkan yang lain.

Namun satu hal

tak pernah berhasil kusampaikan—

bahwa menjadi lelaki

tak harus mematikan rasa.

Aku berharap

setiap kali aku menegurmu dengan sabar,

ada sesuatu yang bergerak di dalam dadamu.

Bukan untukku—

melainkan agar kau kelak

tak menjadi lelaki

yang melukai orang baik

hanya karena tak pernah belajar peka.

Kau tetap sama.

Datang, menjalani, pergi.

Aku tetap di tempat yang sama,

menyambutmu dengan wajah utuh

sementara hatiku

retak sedikit demi sedikit.

Harapanku tak runtuh sekaligus.

Ia aus.

Hari demi hari,

oleh sikapmu yang datar,

oleh diam yang terlalu lama,

oleh perubahan yang tak pernah datang.

Ada malam-malam

di mana aku bertanya pada diriku sendiri:

mengapa aku terus berharap

pada seseorang

yang bahkan tak sadar

ia sedang diharapkan.

Namun esoknya,

aku tetap berdiri di hadapanmu,

menjadi pembina yang sama—

tegas, adil,

dan menyembunyikan lelah

di balik nada yang terkendali.

Aku berharap kau berubah

bukan karena cinta,

melainkan karena dunia

akan lebih ramah

jika kau belajar lembut.

Dan jika suatu hari

kau menyadari

betapa banyak orang

yang diam-diam menjagamu,

aku harap kau tak menyesal

telah melewati mereka

tanpa pernah benar-benar melihat.

Jika kau berubah,

aku mungkin sudah tak ada

di barisan yang sama.

Namun aku akan tersenyum

dari kejauhan,

karena harap yang dulu

menghancurkanku pelan-pelan

akhirnya

tak sia-sia sepenuhnya.

Dan jika kau tak pernah berubah,

aku akan berdamai juga—

sebab aku telah mencintaimu

dengan cara paling sunyi:

berharap,

tanpa pernah menuntut,

hingga hatiku sendiri

belajar lelah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Retak yang Kupelihara Diam - Diam

Ia yang Tak Pernah Menoleh

Harap yang Tak Pernah Terucap