Harap yang Tak Pernah Terucap

 

Aku tahu,

kau bukan lelaki yang pandai berubah.

Hatimu seperti pagi tanpa matahari—

ada, tapi tak pernah benar-benar hangat.

Aku menunggumu bukan untuk mendekat,

melainkan untuk melihat

apakah suatu hari

kau menoleh pada dunia

dengan rasa yang lebih manusiawi.

Setiap nasihat yang kuucapkan

kuselipkan doa agar kau belajar lembut,

bukan lemah—

hanya cukup peka

untuk menyadari siapa yang berjalan bersamamu.

Kau tetap sama.

Langkahmu keras, suaramu datar,

dan kau melewati perhatianku

seolah itu angin yang tak perlu dikenang.

Namun aku tetap berharap.

Bukan berharap kau membalas,

melainkan berubah—

menjadi lelaki yang tak sekadar kuat,

tapi juga mampu menjaga perasaan

tanpa harus diminta.

Aku berharap kau belajar menahan kata

saat kata bisa melukai,

belajar tinggal sebentar

saat seseorang ingin didengar.

Jika kelak kau menjadi versi dirimu yang lebih baik,

aku tak perlu hadir di hidupmu.

Cukup tahu bahwa

harapan yang kutanam diam-diam

pernah ikut menumbuhkanmu.

Dan bila kau tak pernah berubah,

aku tetap akan berdamai—

sebab mencintaimu,

bagiku,

bukan soal hasil,

melainkan tentang harapan

yang tetap kupeluk meski tak pernah pulang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Retak yang Kupelihara Diam - Diam

Ia yang Tak Pernah Menoleh